SELAMAT DATANG

Blog ini aku dedikasikan pada PROF. DR. Syakban, M.A. seorang ahli bahasa Nasional, yang telah membesarkanku dalam dunia bahasa

Jumat, 12 April 2013

Peer-Editing Worksheet for Writing I

Please download here to get Peer-Editing Worksheet. Thx

Kamis, 10 September 2009

ASWAJA: Sebuah Pilihan Ideologi Anak Bangsa

LEBIH TEPAT LEBIH BAIK

DENGAN ASWAJA; LANJUTKAN!ì

Pendahuluan

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk karena di Indonesia ada berbagai macam suku, bahasa, tradisi, dan agama yang dimiliki oleh bangsa ini. Kemajemukan itu merupakan kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa ini. Namun, jika keberagaman itu tidak dimanage dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan akan muncul konflik antar suku, bahkan agama. Terlebih lagi, setelah pintu reformasi dibuka, maka kebebasan semakin mendapatkan tempat di tengah bangsa Indonesia ini.

Seiring dengan dibukanya pintu reformasi tersebut, bukan hanya kebebasan beragama yang dijunjung, namun juga kebebasan dalam memilih aliran dalam agama semakin meluas. Jadi, pada saat ini, Indonesia sebagai agama yang majemuk bukan hanya memiliki banyak agama, namun juga banyak aliran (sekte) dalam sebuah agama.

Fundamental (pihak Kiri) dan Liberal (Pihak kanan) adalah dua kutub aliran agama yang ada di Indonesia ini. Fundamental merupakan kelompok aliran Islam garis keras yang ingin menerapkan nilai-nilai Islam secara formal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelompok aliran ini akan bersikap “keras” terhadap kelompok lain yang berseberangan dengan kelompoknya, walaupun sama-sama beragama Islam, bahkan mereka berani mengkafirkan saudara sesama Muslimnya. Salah satu contoh yang dapat mempresentasikan kelompok ini adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Berbeda dengan kelompok fundamental, krlompok liberal merupakan sebuah kelompok aliran Islam yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berfikir. Sehingga, orang-orang yang masuk dalam kelompok ini selalu mencoba memahami agama dengan cara menuhankan akal sebagai alat utama. Padahal akal manusia terbatas, sehingga tidak jarang produk dari pemikiran mereka bisa menimbulkan kontroversi. Salah salah satu organisasi yang masuk dalam kategori kelompok liberal ini adalah Jaringan Islam Liberal (JIL).

Oleh karena itu, dalam judul makalah ini penulis menegaskan bahwa lebih tepat dan lebih baik memilih Aswaja. Lantas, apakah Aswaja itu? lalu bagaimanakah dengan Nadhlatul Ulama (NU)? Ada di posisi manakah NU? Itulah beberapa hal yang akan kita bahas dalam makalah ini. Beberapa hal yang akan penulis angkat dalam makalah ini adalah: Pengertian &Karakter Aswaja, Perbedaan Aswaja dengan Aliran Fundamental dan Liberal, Hubungan Aswaja dengan NU dan Penutup/Simpulan.

Pengertian Aswaja:

Aswaja merupakan singkatan dari Ahlu Al-Sunnah wa Al-Jamaah. Berikut ini pengertian Aswaja menurut KH Muhyiddin Abdusshomad (2008: 4):

1. Ahlu: Keluarga, golongan, pengikut

2. Al-Sunnah: segala sesuatu yang telah diajarkan Rasululloh SAW, baik itu yang berasal dari perkataan, perbuatan dan pengakuan beliau.

3. Al-Jamaah: Apa yang telah disepakati oleh para sahabat Rasululloh pada masa Khulafaur Rasyidin.

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat diambil simpulan bahwa Aswaja merupakan sebuah golongan atau kelompok yang mengikuti ajaran Rasululloh (Quran dan Sunnah) dan sesuai dengan apa yang telah dijalankan oleh para sahabat. dengan kata lain, golongan ini bukan hanya menggunakan Quran dan Hadits dalam memahami Islam yang sifatnya universal, tetapi mereka juga menilik sejarah kehidupan para sahabat serta mengikuti pendapat sebagian besar Ulama (ijma) dan menggunakan Qiyas dalam menentukan suatu produk hukum.

Lantas siapakah yang membawa faham Aswaja ke Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini, marila kita melihat Sebuah realitas bahwa mayoritas umat Islam i Indonesia sejak dulu hingga sekarang menganut Aswaja, karena mayoritas umat islam di Indonesia menggunakan madzab Imam Syafi’i dalam bidang Fiqh.

Sudah barang tentu mereka mendapatkan faham tersebut dari para Ulama yang menyebarkan Islam di Indonesia. Berdasarkan fakta sejarah, bahwa penyebar Islam di Indonesia adalah Wali Songo. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembawa faham Aswaja adalah wali songo.

Karakter Aswaja

Aswaja memiliki tiga karakter, yaitu, At-Tawassuth (Tengah), Al-I’tidal (Adil) dan At-Tawazun (Seimbang). Seperi apa yang telah penulis bahas di awal, bahwa di Indonesia ada dua golongan besar yaitu Fundamental (Pihak Kiri) dan Liberal (Pihak Kanan). Dengan memperhatikan Karakter-karakter tersebut, maka kita dapat melihat bahwa Aswaja tidak berada di pihak kiri maupun kanan, tetapi faham Aswaja berada di tengah-tengah.

Di tengah bukan berarti Aswaja serba kompromistis dengan mencampuradukkan semua unsur. Namn justru, Aswaja mengakomodasi unsur-unsur yang ada yang tidak bertentangan. Seperti contoh kasus, dalam komunitas aliran liberal, mereka selalu berusaha meemcahkan masalah-masalah agama dengan menggunakan akal belaka, seolah-olah mereka “menuhankan” akal. Sedangkan kelompok Fundamental hanya akan menelan “mentah-mentah” apa yang ada dalam al-Quran dengan tanpa melihat sejarah dan konteks yang ada dalam menjawab permasalahan agama. Berbeda dengan Aliran Liberal dan Fundamental, Aswaja dalam memahami agama, mereka memperhatikan al-Quran dan Hadits yang digali dengan menggunakan akal serta merujuk pada pendapat ulama salaf (terdahulu) berdasarkan ilmu bahasa (nahwu-shorof), tafsir, balaghah dan mantiq. Dengan dasar yang sangat kuat tersebut, maka produk hukum yang dikeluarkan akan jauh lebih valid dari pada hanya engan menggunakan akal belaka.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa, Aswaja merupakan golongan yang tidak memihak golongan kanan atau pun kiri. Selain itu, Aswaja juga tetap mempertahankan pendapat paraulama dalam memahami al-Quran dan Hadits karena Ulama adalah pewaris para nabi.

Aswaja Vs NU

Nahdlatul Ulama (NU) memiliki arti kebangkitan para Ulama. Nu merupakan sebuah jam’iyyah (organisasi) yang didirikan oleh para Kyai pengasuh pesantren. Tujuan didirikannya NU ini termaktub dalam buku Aswaja An-Nahdliyah (2007:1) adalah sebagai berikut:1) memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Aswaja, 2) mempersatukan langkah para Ulama dan pengikut-pengikutnya, 3) melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat serta martabat manusia.

dalam sub bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Di sisi lain, organisasi ini didirikan oleh para Ulama. Maka, dapat dikatakan bahwa organisasi NU merupakan salah satu organisasi keagamaan yang kekuatan utamanya ada pada para Ulama.

Dalam realitas sosial yng ada bahwa mayoritas Ulama Indonesia memiliki faham Aswaja, terutama Ulama-ulama yang ada di kalangan pesantren. Oleh karena itu, ketika para ulama tersebut bersatu dan mendirikan organisasi yang bernama NU, maka dapat dipastikan bahwa faham yang ada dalam organisasi tersebut adalah faham Aswaja. Sehingga, NU merupakan wadah yang tepat untuk memperjuangkan nilai-nilai Aswaja yang ada di Indonesia. Dengan kata lain, perjuangan mempertahankan faham Aswaja dapat dilakukan dengan para Ulama yang terus-menerus berjuang dengan cara mengajarkan ilmu-ilmu mereka kepada para santri dan masyarakat sekitar pesantren.

Penutup

Sejak awal makalah ini ditulis, kita telah bisa memetakan aliran aliran yang ada di Indonesia ini. Aliran-aliran tersebut adalah Aliran Kanan (Liberal), Aliran kiri (Fundamental) dan Aliran tengah (Aswaja).

NU yang merupakan salah satu organisasi keagamaan yang ada di Indonesia merupakan organisasi yang berfahamkan Aswaja. sehingga, Aswaja benar-benar hidup dan bertahan di tubuh NU.

Sebagai genarasi muda NU, maka merupakan sebuah keniscayaan bagi kita untuk ikut juga berjuang mempertahan nilai-nilai Aswaja dalam masyarakat melalui NU dan Banom-banomnya (Muslimat, Anshor, Fatayat, IPNU dan IPPNU), karena para generasi muda inilah yang nantinya akan meneruskan perjuangan para Ulama saat ini.

Dari ketiga pilihan yang ada (liberal, fundamental dan Aswaja), maka lebih tepatnya dan lebih baiknya kita memilih Aswaja. pada dasarnya kita telah memilih Aswaja sejak kecil, karena kita telah terlahir di lingkungan masyarakat yang menganut faham Aswaja, maka sebenarnya kita telah memilih Aswaja sebagai pilihan lita, makad ari iru LANJUTKAN!




Madrasah Pasti Lebih Baik!

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Madrasah merupakan salah satu lembaga yang bertugas untuk menjalankan amanat Undang-undang Dasar ’45, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena di dalam madrasah terdapat proses pendidikan yang merupakan wadah untuk mentransfer ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Selain itu, madrasah juga memiliki tugas untuk menanamkan nilai-nilai spiritual kepada peserta didik.

Namun, eksistensi madrasah telah terabaikan selama beberapa periode ini. Hal ini terbukti dengan lambatnya perkembangan dalam tubuh madrasah. Sehingga animo masyarakat untuk menyekolahkan putra mereka di madrasah sangatlah rendah sejak beberapa tahun terakhir ini.

Sehingga muncullah distingsi yang mencolok antara sekolah umum dan madrasah. Di mana di saat madrasah sedang berjuang untuk berlomba-lomba mencari siswa, di lain sisi, sekolah umum justru sibuk menyeleksi calon siswanya dan tentunya akan ada calon siswa yang ditolak untuk belajar di sekolah yang dianggap “favorit” tersebut.

Fenoma ini berjalan selama beberapa tahun. Hingga akhirnya, terjadi luberan siswa di sekolah-sekolah umum dan sepinya peminat di madrasah-madrasah. Dengan kata lain, kuantitas peminat madrasah menurun drastis saat itu.

Padahal, seperti yang kita ketahui bahwa madrasahlah yang justru menanamkan nilai-nilai spiritual dan intelektual kepada siswanya. Di madrasah siswa dididik secara integrative antara ilmu umum dan ilmu agama. Namun, keberadaan ilmu agama yang di dalamnya terdapat nilai spiritual ini tidak menjadi hal yang menarik bagi generasi muda.

Akibatnya, saat ini generasi muda mengalami krisis moral. Bukti dari adanya krisis moral ini adalah banyaknya media massa yang mengekspos keberadaan remaja yang sudah jauh dari nilai-nilai agama, seperti tawuran remaja, free sex, dan hal-hal lain yang bersifat pornografi dan pornoaksi.

Saat melihat fenomana semacam ini, para pemegang kebijakan (stakeholder) tersentak dan kaget dengan adanya perubahan sikap remaja yang menuju demoralisasi, yaitu suatu sikap yang sudah melupakan nilai-nilai agama dan hanya mengedepankan nilai-nilai dan budaya barat atau secara leksikal demoralisasi berarti keruntuhan akhlak atau kemerosotan moral (Yacub, 1994:101).

Dengan adanya fenomena semacam ini, para pemegang kebijakan mulai sadar akan pentingnya keberdaan madrasah dalam masyarakat. Mereka sadar bahwa madrasah bukan hanya bertugas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi juga ikut serta membangun generasi bangsa yang bermoral dan bertabat dengan senantiasa mengedepankan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh agama..

Sehingga, pada saat ini pemerintah melalui departemen agama ikut serta membantu eksistensi madrasah untuk berkembang dan berevolusi menuju lembaga pendidikan yang professional.

Walaupun ini terkesan terlambat, tapi kita perlu menyambut positif program pemerintah tersebut dengan ikut serta merevolusi proses pendidikan yang ada di madrasah sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah guna menjadi madrasah unggulan di masa depan.

B. Rumusan Masalah

1) Apa kriteria madrasah atau sekolah unggulan saat ini?

2) Apa upaya yang bisa dilakukan oleh madrasah untuk meningkatkan mutu pendidikannya?

C. Tujuan

1) Untuk mengetahui criteria madrasah unggulan pada saat ini.

2) Untuk mengetahui langkah-langkah yang bisa diupayakan guna mencapai madrasah unggulan sebagai bentuk wujud peningkatan mutu pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Madrasah Vs Sekolah Umum

1) Definisi

Secara terminologi madrasah dan sekolah adalah sama. Kata “madrasah” berasal dari bahasa arab yang berarti “sekolah”. Jadi pada dasarnya madrasah dan sekolah merupakan satu nama tapi beda lembaga.

Pertama kali madrasah muncul di wilayah pesantren sebagai sarana bagi para santri untuk mendapatkan ilmu yang lebih luas dan mempermudah santri jika mereka ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Jadi, pada dasarnya madrasah dan sekolah umum adalah sama, yaitu keduanya merupakan lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat proses belajar mengajar. Oleh karena itu, tujuan didirikannya madrasah dan sekolah adalah sama yaitu berorientasi pada pendidikan atau untuk mencapai tujuan-tujuan dalam dunia pendidikan.

Adapun tujuan-tujuan pendidikan dibagi menjadi 4 macam (Idi, 1999:13), yaitu:

1) Tujuan Pendidikan Nasional

2) Tujuan Institusional

3) Tujuan Kurikuler

4) Tujuan Instruksional

Tujuan Pendidikan Nasional menurut UU No. 2 tahun 1989 pada dasarnya untuk membentuk anak didik menjadi manusia seutuhnya, yang mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi serta beriman dan bertaqwa (Idi, 1999:13). Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional di atas M. Yusuf al-Qardawi (dalam Azra, 1999:5) memberikan penjelasan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlak dan ketrampilannya. Berdasarkan dari paparan ini, kita bisa melihat bahwa posisi ilmu agama dan ilmu umum adalah sama. Dengan kata lain, pemerintah sudah seharusnya bukan mengedepankan nilai-nilai intelektual, namun juga spiritual (berakhlakul karimah).

Sedangkan tujuan institusional ini berhubungan dengan tujuan atau target yang ingin dicapai oleh suatu lembaga pendidikan. Tujuan institusional ini harus selaras dan ada relevansinya dengan tujuan pendidikan nasional. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Idi (1999:14) bahwa keberadaan tujuan pendidikan mesti menggambarkan kelanjutan dan memiliki relevansi yang kuat dengan tujuan pendidikan nasional.

Seperti halnya tujuan institusional, maka tujuan kurikuler juga harus ada relevansinya dengan tujuan pendidikan nasional dan institusional karena tujuan kurikuler ini merupakan tindak lanjut dari tujuan institusional.

Selanjutnya adalah tujuan instruksional. Tujuan instruksional ini lebih bersifat praktis, dalam arti tujuan ini diharapkan dapat tercapai ketika terjadi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di dalam kelas.

Berdasarkan pemaparan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa baik madrasah maupun sekolah umum memiliki tujuan yang sama dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis menarik benang merah bahwa antara madrasah dan sekolah umum tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal penyelenggaraan pendidikan karena keduanya memiliki tujuan yang sama dan juga tugas yang sama, yaitu membentuk manusia seutuhnya. Bahkan dalam hal pembentukan karakter generasi muda, peran madrasah lebih besar karena di dalamnya terdapat lebih banyak muatan keagamaan daripada di sekolah umum.

B. Madrasah dan Tantangannya

Seiring dengan dengan berjalannya waktu, maka perubahan pun tak dapat terelakkan. Hal ini selaras dengan pendapatnya Arifin (1994:44) ia berpendapat bahwa sebagai suatu sistem kehidupan, kemasyarakatan adalah tidak statis dan beku, melainkan mengalami perkembangan kearah dinamis yang mengandung implikasi perubahan-perubahan. Begitu juga perubahan yang ada dalam dunia pendidikan. Pola pikir generasi muda saat ini jelas berbeda dengan pola pikir generasi muda pada zaman penjajahan atau awal kemerdekaan dulu.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa sikap siswa/I yang acuh tak acuh dengan pendidikan mereka. Penulis mengatakan acuh tak acuh karena melihat fenomena yang ada di lapangan. Pada saat ini, para pelajar justru sering melupakan tugas utamanya untuk belajar, sebaliknya mereka lebih sibuk untuk mengurusi ego dan kesenangan mereka sendiri, seperti: lebih suka bermain playstation dari pada belajar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ada perubahan pola pikir pada diri pelajar. Sehingga tantangan dunia pendidikan ke depan, terutama madrasah, akan lebih berat karena madrasah bukan hanya dituntut untuk mencetak generasi muda yang melek informasi, tapi juga memiliki akhlakul karimah. Jadi tantangan ke depan bagi madrasah adalah bagaimana generasi muda yang berakhlakul karimah (memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi) dapat terwujud di tengah-tengah dunia global. Selain itu, madrasah juga dituntut untuk tetap mampu melahirkan generasi muda yang memahami ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jadi, tantangan madrasah ke depan akan berhubungan dengan eksistensi madrasah di tengah dunia global yang identik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1) Madrasah dalam dunia global

Merujuk pada salah satu poin dalam tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk generasi muda yang beriman dan bertaqwa, maka peranan madrasah sangatlah besar. Hal ini dikarenakan porsi ilmu keagamaan di madrasah lebih besar dibandingkan dengan di sekolah umum.

Oleh karena itu, madrasah seharusnya mampu mengambil peran yang besar dalam hal ini. Dengan kata lain, madrasah memiliki tanggung jawab untuk membangun sistem nilai bagi generasi muda di tengah dunia global.

Sistem nilai adalah suatu tumpuan norma-norma yang dipegangi oleh manusia sebagai makhluk individual dan sosial, baik itu berupa norma tradisional maupun norma agama yang telah berkembang dalam masyarakat (Arifin, 1994:45).

Menurut Arifin, sistem nilai merupakan tantangan bagi pendidikan Islam, termasuk madrasah, karena di tengah dunia global perubahan merupakan sine qua non (hal yang mutlak) yang diakibatkan oleh perubahan pola pikir atau kemajuan berpikir manusia.

Dalam kondisi semacam ini, madrasah dituntut untuk tetap menjaga sistem nilai tersebut. Kalaupun sistem nilai ini mengalami perubahan, maka diharapkan perubahan itu bersifat positif.

2) Madrasah di tengah Kemajuan Teknologi

Seperti yang diungkapkan oleh penulis di awal tulisan ini bahwa madrasah muncul pertama kali di lingkungan pesantren yang notabenenya memiliki sistem pembelajaran yang bersifat klasikal. Sehingga, karakter ini terbawa di lingkungan madrasah.

Akibatnya kemajuan teknologi merupakan tantangan tersendiri bagi madrasah. Bidang teknologi menjadi kendala bagi madrasah karena kemajuan teknologi berkaitan erat dengan Sumber Daya Manusia yang tersedia. Arifin (1994:43) berpendapat bahwa teknologi sebagai ilmu pengetahuan terapan adalah hasil kemajuan budaya manusia yang banyak bergantung kepada manusia yang menggunakannya. Jadi, jika SDM-nya rendah, maka kemajuan teknologi tidak akan terwujud.

Sehingga dalam hal kemajuan teknologi ini, madrasah harus berjuang dengan keras agar SDM yang tersedia mampu memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang demi kemajuan madrasah.

C. Quo Vadis Madrasah

Melihat tantangan madrasah yang sudah menunggu di depan mata, maka selayaknyalah madrasah harus mempunyai strategic planning (langkah-langkah strategis) yang bisa digunakan untuk membangun madrasah yang ideal dan professional guna meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan madrasah.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah arah perkembangan madrasah ke depan. Sehingga muncullah pertanyaan, mau dibawa ke manakah madrasah ke depan (Quo Vadis Madrasah)?

Hal ini penting untuk dirumuskan, karena madrasah harus memiliki landasan dalam menjalankan arah perkembangannya. Sehingga, ada target yang jelas tentang indikator-indikator keberhasilan suatu madrasah.

1) Landasan Gerak Madrasah

Dalam melaksanakan pergerakan menuju madrasah yang memiliki mutu pendidikan yang berkualitas, tentunya madrasah harus mempunyai landasan geraknya. Menurut hemat penulis, landasan gerak madrasah yang tepat adalah al-Qur’an dan al-Hadits karena di dalamnya terdapat berbagai macam pengetahuan mulai dari yang berhubungan dengan sains dan teknologi sampai pada masalah ubudiyah walau masih dalam skala global. Hal ini senada dengan pendapat Suprayogo (2004: xi), ia mengatakan bahwa memang al-qur’an sendiri –sebagaimana juga al-Maghribi berpendapat- merupakan prinsip-prinsip umum, tetapi seseorang dapat menghasilkan seluruh pengetahuan tentang perkembangan fisik dan spiritual manusia dengan bantuan prinsip-prinsip umum tadi.

Berikut ini contoh bahwa dalam al-qur’an pun ada ilmu pengetahuan yang bersifat umum. …barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui (QS.2: 184).

Mustofa (2004: 82-83) menjelaskan bahwa di dalam tubuh manusia ada sampah metabolisme yang menyebar ke seluruh jaringan tubuh dalam bentuk radikal-radikal bebas, kelebihan lemak, kolesterol, asam urat, dan berbagai macam zat yang tidak berguna bagi tubuh. Bahkan cenderung membebani fungsi organ-organ vital.

Dalam surat al-baqarah ayat 184 menjelaskan bahwa puasa itu lebih baik dari pada tidak berpuasa. Selanjutnya mustofa menjelaskan (berdasarkan ilmu pengetahuan ) bahwa di dalam tubuh manusia terdapat sampah metabolisme yang bisa menjadi sumber penyakit bagi manusia.

Jika kondisi semacam ini dibiarkan, ini berarti kita menanam penyakit dalam tubuh kita sendiri. Sebaliknya, jika kita melaksanakan puasa maka kita tidak akan menambah sampah metabolisme yang ada dalam tubuh kita. Maka dalam hal ini, puasa lebih bagi manusia.

Inilah fakta ilmu pengetahuan yang ada dalam al-qur’an. Jika kita kembali kepada fungsi al-Quran dan al-Hadits sebagai landasan gerak madrasah yang di dalamnya juga mengembangkan ilmu pengetahuan dan agama, maka Sangatlah tepat jika kita menjadikan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai landasan gerak arah pengembangan madrasah ke depan.

Oleh karena itu, madrasah harus tetap menjaga nilai-nilai intelektual (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits serta nilai-nilai spiritual (sistem nilai, norma dll).

2) Madrasah: Lembaga yang Profesional

Madrasah merupakan benda mati yang hanya bisa berkembang jika digerakkan oleh Sumber Daya manusia yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, keberadaan sumber daya manusia dalam pengembangan madrasah sangat diperlukan. Sehingga, SDM tersebut perlu diatur agar mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Pengaturan sumber daya manusia ini sering diistilahkan dengan manajemen sumber daya manusia (MSDM).

MSDM adalah pengembangan dan pemanfaatan personil bagi pencapaian yang efektif mengenai sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan individu, organisasi, masyarakat, nasional dan internasioanl (Kiggudu, dkk dalam Cardoso, 1995:4).

Dengan kata lain, dalam MSDM kita memanfaatkan personil yang dimiliki oleh suatu lembaga untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Di lingkungan madrasah, personilnya sangatlah variatif, ada ahli ilmu eksak (guru Matematika, IPA), agama (guru Aqidah Akhlak, Qur’an-Hadits dll) serta bahasa (guru bahasa Arab, Inggris, Jawa dan Indoneissa). Sehingga, untuk mencapai tujuan lembaga, maka personil-personil tersebut harus digerakkan untuk mencapai cita-cita lembaga berdasarkan keahlian yang dimilikinya.

Dengan memiliki arah pengembangan yang sudah jelas dalam rumusan madrasah dan dengan mempunyai tenaga ahli di bidangnya, maka tidak ada kata tidak mungkin bagi madrasah untuk tidak berkembang dan maju serta mampu meningkatkan mutu pendidikan yang ada.

Sehingga, dengan adanya strategic planning dan tenaga ahli di dalamnya, madrasah akan terlahir menjadi lembaga yang professional yang siap mengantarkan peserta didiknya untuk menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

3) Output Madrasah

Dengan memiliki landasan gerak berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits yang di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan umum dan agama serta dengan disokong oleh tenaga professional, madrasah diharapkan mampu melahirkan generasi yang multifungsi. Maksudnya, mereka memahi perkembangan ilmu pengetahuan yang ada serta memiliki nilai-nilai luhur yang senantiasa menjadi karakteristik generasi muda ideal.

Dengan kekuatan yang dimiliki oleh madrasah tersebut, maka madrasah akan mampu melahirkan intelek yang ulama dan ulama yang intelek. Artinya, mereka akan menjadi sesosok generasi muda yang siap berjuang dalam dunia ilmu pengetahuan tetapi tetap berlandaskan pada norma-norma agama.

D. Madrasah (Sekolah) Unggulan

Lantas, bagaimanakah criteria menjadi sekolah atau madrasah unggulan? Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis akan membahas tipe-tipe madrasah unggulan sebagai tolak ukur keberhasilan madrasah dalam mengembangkan lembaganya.

1) Tipe Madrasah (Sekolah) Unggulan

Ada beberapa tipe sekolah yang unggul (Moedjiarto, 2001:3-4)

1. Suatu sekolah yang inputnya unggul atau berkualitas, namun proses belajar mengajarnya biasa saja dan melahirkan lulusan yang unggul. Dengan kata lain keunggulan sekolah ini memang merupakan bawaan sebelum siswa masuk ke sekolah tersebut.

2. Suatu sekolah yang unggul dalam hal fasilitas. Karena fasilitasnya unggul, maka harga fasilitas tersebut sudah barang tentu sangat mahal. Di sekolah semacam ini, dengan fasilitas yang serba mewah tersebut, daya tahan siswa untuk belajar bisa lebih lama. Gurunya juga pilihan, dengan rasio guru murid sangat baik. Dengan demikian, harapannya proses belajar mengajar akan berjalan lancar dan lulusannya juga akan bermutu tinggi.

3. Sekolah yang unggul jenis yang ketiga adalah yang penekanannya pada iklim belajar yang positif yang ada di lingkungan sekolah. Pengamat pendidikan belum banyak menyoroti tipe sekolah unggul yang ke-3 ini. Di Amerika Serikat, masih menurut Moedjiarto, yang dinamakan sekolah yang unggul adalah sekolah yang mampu memproses siswa bermutu rendah waktu masuk sekolah tersebut (input rendah), menjadi lulusan yang bermutu tinggi (output tinggi).

Berdasarkan uraian di atas, mungkin madrasah sudah tertutup untuk menjadi sekolah yang unggul tipe pertama dan tipe kedua karena keterbatasan dana dan masih belum banyaknya peminat yang berkualitas untuk masuk ke madrasah.

Maka peluang bagi madrasah untuk menjadi sekolah yang unggul adalah berada pada tipe yang ketiga. Karena dengan landasan gerak yang jelas dan tenaga pendidik yang professional, maka tidak menutup kemungkinan madrasah mampu membangun lingkungan akademis yang memiliki iklim belajar yang tinggi. Sehingga dengan menerapkan starategic planning yang berlandaskan pada nilai-nilai intelektual dan spiritual serta dengan adanya tenaga pendidik yang professional, maka madrasah akan mampu menjadi sekolah unggulan dari segi iklim belajarnya dan mampu melahirkan output yang berkualitas walaupun dengan input yang terbatas.

2) Madrasah Unggulan: sebagai Sarana Perwujudan Pendidikan yang Bermutu di Madrasah

Berdasarkan hasil pembahasan di atas, maka madrasah pun memiliki peluang untuk menjadi sekolah unggulan atau lebih tepatnya disebut dengan Madrasah Unggulan.

Dengan menjadi madrasah unggulan bukan berarti sebagai kebanggaan belaka. Namun lebih dari itu, dengan menjadi madrasah unggulan, maka usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah mulai menemui titik terang.

Dengan kata lain, madrasah unggulan sebagai sarana untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu di lingkungan madrasah. Karena madrasah unggulan bukan lahir dari tanpa usaha dan perencanaan, tapi madrasah unggulan terlahir dari usaha yang keras yang didahului dengan strategic planning yang jelas yang berlandaskan pada nilai-nilai spiritual dan intelektual.

Sehingga peluang menjadi madrasah unggulan dengan mutu pendidikan yang berkualitas tidak lagi menjadi hal yang utopis bagi madrasah. Hal itu dapat tercapai dengan beberapa langkah, yaitu (1) perumusan landasan gerak madrasah, (2) perumusan arah pengembangan madrasah ke depan (Quo Vadis Madrasah), (perumusan strategic planning, dan (4) Manajemen sumber daya manusia.

BAB III

PENUTUP

Simpulan

Lembaga pendidikan berupa madrasah yang terkesan terbelakang dan hanya memiliki mutu pas-pasan ternyata bisa juga berevolusi menjadi lembaga pendidikan yang ideal dan menjadi madrasah yang unggul.

Namun, jalan menuju madrasah yang unggul tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berdasarkan hasil pembahasan pada Bab II sebelumnya, dapatlah dilihat bahwa madrasah yang unggul bukan berarti madrasah yang yang menarik biaya yang mahal kepada peserta didik.

Keunggulan suatu lembaga pendidikan tidak hanya dapat diukur dari biaya yang dikeluarkan oleh siswa dan fasilitas yang dimilikinya. Namun, keunggulan suatu lembaga pendidikan terletak pada upaya pembangunan iklim belajar di lingkungan sekolah.

Dari paparan Bab II, penulis menyimpulkan bahwa kriteria madrasah yang unggul adalah madrasah yang mampu membangun budaya akademis yang positif di lingkungan lembaga pendidikan yang berupa iklim belajar yang tinggi yang ada di madrasah tersebut.

Membangun budaya atau iklim belajar di lingkungan madrasah merupakan salah satu dari upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah. Namun, upaya ini masih bersifat teoritis. Sehingga sulit untuk dijadikan tolak ukur.

Berikut ini beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan oleh madrasah untuk menuju madrasah unggulan guna meningkatkan kualitas pendidikan yang ada di lingkungan madrasah. Langkah-langkah ini berdasarkan hasil pembahasan pada Bab II. Berikut ini beberapa langkah yang dimaksudkan:

1) Merumuskan landasan gerak madrasah: landasan gerak madrasah berlandaskan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, madrasah membangun nilai-nilai spiritual dan intelektual bagi peserta didik yang ada. Rumusan ini akan menjadi karakteristik madrasah unggulan karena di dalam madrasah semacam ini, pembelajaran tidak hanya fokus pada ilmu agama saja, namun juga tentang teknologi informasi. Jadi gabungan antara ilmu keagamaan dan keteknologian atau di sebut dengan istilah integrated science.

2) Merumuskan arah pengembangan madrasah ke depan: rumusan ini berhubungan dengan output yang diharapkan oleh madrasah.

3) Merumuskan strategic planning: rumusan ini digunakan untuk memetakan perkembangan madrasah ke depan.

4) Manajemen Sumber Daya Manusia: untuk mewujudkan lembaga yang professional, termasuk dalam dunia pendidikan, maka perlu memberdayakan personil yang ada dalam lembaga tersebut sesuai dengan kapasitas dan kemapuannya. Sehingga mereka bisa bekerja sesuai dengan keahliannya.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin. 1994. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Azra, Azyumardi. 1999. Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Penerbit Kalimah.

Cardoso Gomes, Faustino. 1995. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Idi, Abdullah. 1999. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktik. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Mustofa, Agus. 2004. Untuk Apa Berpuasa, Scientific Fasting. Sidoarjo: Padma Press.

Moedjiarto. 2001. Karakteristik Sekolah Unggulan. Jakarta: Duta Graha Pustaka.

Yacub, M. Dahlan. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Penerbit Arkola.

Zainuddin. 2004. Memadu Sains dan Agama, Menuju Universitas islam Masa Depan. Malang: UIN Malang dan Bayumedia.

Minggu, 23 Agustus 2009

TATA BAHASA GENERATIF TRANSFORMATIF

Pendahuluan

Tata bahasa Generatif Trasformasi (TGT) adalah sebuah konsep kajian kebahasaan yang dipelopori oleh Chomsky. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang TGT ini, penulis akan mengajak pembaca untuk “melihat” kondisi kebahasaan yang berkembang sebelum TGT ini lahir.

Dalam tulisan ini, penulis akan menyajikan beberapa hal sebagai bahan diskusi, (1) latar belakang munculnya TGT, (2) Konsep TGT, (3) Tokoh dalam TGT, dan (4) simpulan tentang fungsi TGT.

1. Pendahuluan

Pada tahun 1931-1951, kajian linguistik pada saat itu diwarnai oleh aliran structural, yang kita kenal dengan nama Tata Bahasa Deskriptif. Dalam Tata Bahasa Deskriptif, ada 2 tokoh yang memengaruhinya, yaitu Bloomfield dan Harris. Bloomfield adalah salah satu tokoh strukturalisme Amerika yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Boaz. Dalam tata bahasa jenis ini, kajian yang dikembangkan adalah kajian linguistik yang berhubungan dengan masalah-masalah praktis, dan langsung menjelaskan komponen serta struktur bahasa tertentu berdasarkan realitas formalnya sebagai ujaran. Oleh karena itu, model kajian semacam ini disebut dengan istilah Tata bahasa Struktural.

Model kajian semacam ini sesuai dengan konsep pengembangan teori yang sedang “menjamur” di Amerika Serikat, yaitu logika positivistisme. Bagi logika ini, sebuah teori bisa dianggap benar atau salah, jika telah diujikan pada data kajian secara konkrit.

Pada tahun 1957, Chomsky mengenalkan gagasan barunya melalui sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure. Gagasan barunya yang tertuang dalam buku itulah yang kemudian oleh para linguist disebut degnan Tata bahasa Generatif Transformasi..

2. Konsep Tata Bahsa Generatif Tranformasi

Dalam uraian di atas disebutkan bahwa gagasan Chomsky tentang TGT tertuang dalam bukunya Syntactic Structure. Dalam tersebut, Chomsky menjelaskan bahwa dia melakukan penolakan terhadap asumsi utama strukturalisme yang beranggapan bahwa kelayakan kajian kebahasaan ditentukan oleh diskripsi data kebahasaan secara induktif.

Data kebahasaan secara induktif di sini diartikan oleh penulis sebagai data-data kebahasaan yang sudah paten dan dianggap selesai. Menurut Chomsky (dalam Samsuri, 1988:99) kajian linguistik berkaitan dengan aktivitas mental yang berkaitan dengan probabilitas, bukan berhadapan dengan data kajian tertutup dan selesai, sehingga dapat dianalisis dan didiskripsikan secara pasti. Oleh karena itu, teori linguistic seharusnya dikembangkan dengan bertolak dari cara kerja secara deduktif yang dibangun oleh konstruk hipotetik tertentu.

Akibat dari konsep dasar tersebut di atas, dalam TGT teori diartikan sebagai seperangkat hipotesis yang memiliki hubungan secara internal antara yang satu dengan yang lainya. Dalam hal ini, hipotesis memiliki 2 ciri utama, (1) berisi pernyataan yang berfungsi untuk memahami sesuatu yang bersifat sementara, (2) merupakan kreasi intelek yang sistematis, teliti, tetapi bersifat tentative sehingga memungkinkan untuk dikembangkan atau ditolak.

3. Tokoh Tata Bahasa Generatif tranformasi

Noam Chomsky

Dalam uraian di atas, terlihat jelas kontribusi pemikiran Chomsky dalam TGT. Dalam subjudul ini, penulis akan mengajak pembaca untuk berkenalan dengan Chomsky.

Nama lengkapnya adalah Avram Noam Chomsky. Dia lahir pada tanggal 7 Desember 1928 di Philadelphia. Ayahnya, bernama William Chomsky, adalah seorang ahli bahasa Yahudi yang terkenal pada saat itu. Ketekunan Chomsky dalam membantu kegiatan kebahasaan ayahnya sangat membantu daya intelektualnya dalam kajian kebahasaan di kemudian hari.

Chomsy dahulukala belajar di Universitas Pennsylvania. Pada awalnya ia berguru pada salah satu tokoh aliran struktural, yaitu Harris. Walaupun Haris adalah salah satu tokoh pengembang strukturalisme, tapi gagasannya tidak selalu mengekor pada konsep pemula strukturalisme, yaitu Bloomfield. Oleh karena itu, Harris disebut dengan …”who is a significant transitional figure between structural and generative transformational linguistics (Macly dalam Samsuri, 1988:100).

Dalam studinya, Chomsky tidak hanya mengambil jurusan lingusitik saja, namun ia juga mengambil jurusan Matematika dan Filsafat. Kajian bidang matematikanya memengaruhi Chomsky dalam model penyusunan aksioma linguistik yang diformulasikan. Sedangkan filsafat memengaruhi Chomsky dalam menilai wawasan folisofis tata bahasa strukturalisme yang banyak bertumpuh pada paham empiris.

4. Fungsi Tata Bahasa Generatif Transformasi

Berdasarkan uraian tentang TGT di atas, kita mengetahui bahwa Chomsky telah menuangkan idenya dalam sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure. Setelah ia mengungkapkan konsep TGT secara mendalam, akhirnya Chomsky berkesimpulan bahwa tugas teori linguitik adalah menangkap perangkat kaidah yang terbatas, yang secara tuntas mampu menjelaskan ciri gramatikal dari sejumlah kalimat yang tak terbatas.Jadi dengan adanya TGT ini, kita bisa mengetahui seperangkat kaidah kalimat secara jelas.

Penutup

Demikianlah diskusi kita tentang Tata Bahasa Generatif Transformasi. Singkatnya, dari gagasan tersebut, kita mengetahui bahwa mengkaji suatu bahasa tidak harus dihadapkan pada komponen-komponen kebahasaan yang sudah paten. Namun, pengkajian bahasa bisa dimulai dari cara kerja secara deduktif yang dibangun oleh konstruk hipotetik tertentu.

ROLE OF LANGUGE FOR ISLAMIC STUDIES

By:Hari Prastyoµ

Language is complicated and systematic sound that has meaning. According to Chaer (1995:14) that we can understand what language is, when we know the characteristic of language. Here are some characteristics of language, symbol system, sound, arbitrary, production, dynamic, diversity and humanity. While Islamic Studies is a study that is discussed about Islam based on al-Quran. In this essay, writer just limits the study of al-Quran message.

To get understanding of al-Quran message, it needs a means. In my opinion language is the appropriate means to find the message of al-Quran. So language has important role in this case. As we have known that language has some components, they are phoneme, morpheme, syntax and discourse. It is through those components, the message can be found. So we should able to use those components to get the content of al-Quran. Consequently, we should know the function of language too. According to Michel in Chaer (1995:19) that expression information, exploration, persuasion, and entertainment are the function of language.

One of the language functions is exploration. So by using the language we are going to explore al-Quran which consists of Islamic Studies. If we explore al-Quran seriously, we are going to find information, persuasion, entertainment and expression in the al-Quran. After getting them all, we of course do not use for ourselves, but for others too. It means that what is written in al-Quran that is for our society, which is not for us or Arabic people only, but for all of human being. According to Musa (1991:1) that al-Quran is given for all of human being, no difference between Arabic anon Arabic, although it was given to Arabic people by using Arabic language.

Based on that explanation, writer concludes that the function of language is term of transferring message/knowledge; whether it is from al-Quran to the readers or from the readers/interpreters to the society. In this case, the interpreters of al-Quran of course need language to explore that. As we writer states above that one of language characteristics is diversity. So it will appear many interpretation of al-Quran it self. In this case, the interpreter will argue each other about the result of the interpretation. By this condition, it can make the Islamic Studies live and develop. In short, by using the language we can get information from al-Quran and also we are able to deliver and share our knowledge which is based on al-Quran, to other people or society around us. So that, in my opinion among language, Islamic Studies and society has relation each other

Finally, based on the information, the writer concludes that there are some functions of language to Islamic Studies, (1) an a means of interpretation of the al-Quran, (2) as a means of communication/sharing with others. So the writer states that language has a big contribution for Islamic studies. Due to the language is a means to make Islamic studies live and develop through sharing and delivering the argument each other. Otherwise, Quran will not be discussed and be static. If it happens, according to the writers, the content of al-Quran which content of Islamic studies will be forgotten gradually. At last, al-Quran will only be a symbol, but no value for human being.



µ a lover of lingusitic

NU DAN POLITIK: SEBUAH REFLEKSI PERANAN NU DALAM MASYARAKAT

Oleh: Hari PrastyoÂ

Pendahuluan

Suatu ketika, penulis sedang berbincang dengan salah seorang tokoh masyarakat di tempat di mana penulis tinggal (Jombang) tentang keberadaan NU. Namun, respon yang diberikannya benar-benar di luar dugaan penulis. Ia mengatakan bahwa ia tidak terlalu perduli dengan urusan politik. Ini merupakan respon yang tidak sesuai dengan stimulus yang diberikan oleh penulis. Dalam perbincangan tersebut, penulis mengambil topik NU sebagai bahan perbincangan. Namun, topik tentang politik justru menjadi respon lawan bicara penulis. Padahal, sejauh pengetahuan penulis, orang tersebut adalah warga nadhliyin. Akhirnya muncullah pertanyaan dalam benak penulis, sampai sejauh mana hubungan antara NU dan politik? Semakin romantiskah? Atau masih pada tahap perkenalan?

Oleh karena itu, berawal dari cerita di atas, maka penulis akan mengkaji tentang NU dan Politik. Dalam tulisan ini, penulis akan memulai bahasan dari respon yang diberikan oleh lawan bicara penulis. Dalam tulisan ini, penulis akan menggunakan pendekatan kebahasaan (linguistik) tentang fenomana bahasa yang terjadi antara penulis dan lawan bicaranya. Selanjutnya teori yang akan digunakan adalah teori stimulus respon oleh Bloomfield. Ia adalah salah satu tokoh ahli bahasa bidang semantik (makna).

NU: Sebuah Organisasi Sosial Keagamaan

NU yang sudah berdiri sejak tahun1926 Masehi merupakan salah satu organisasi yang mengedepankan kemaslahatan agama Islam. Hal ini sesuai dengan Anggaran Dasar NU pasal 2 tahun 1984,1930,1952, 1979 yang mengatakan bahwa “Adapoen maksoed perkoempoelan ini jaitoe: "Memegang dengan tegoeh pada salah satoe dari madzhabnja Imam ampat, jaitoe Imam Moehammad bin Idris Asj-Sjafi'i, Imam Malik bin Anas, Imam Aboehanifah An-Noe'man, atau Imam Ahmad bin Hambal, dan mengerdjakan apa sadja jang mendjadikan kamaslahatan agama Islam”.

Berdasarkan informasi di atas, maka kita bisa menilai bahwa tujuan utama didirikannya NU adalah sangat mulia, yaitu menjadikan kemaslahatan agama Islam. Jadi, organisasi ini mengemban tugas untuk menjawab permasalahan-permasalahan keagamaan yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan kata lain, NU harus mampu menjadikan dirinya sebagai suatu organisasi yang mampu mengedepankan nilai-nilai sosial keagamaan demi kemslahatan agama Islam. Seiring dengan berjalannya waktu, masalah sosial sering dihadapkan dengan masalah keagamaan. Oleh karena itu, peranan NU di wilayah ini harus semakin diperkuat. Sehingga NU diharapkan mampu memecahkan masalah-masalah sosial dan masalah-masalah keagamaan.

Argumen di atas semakin menguatkan pendapat bahwa NU merupakan organisasi sosial keagamaan, bukan sosial perpolitikan yang hanya memanfaatkan masalah-masalah sosial untuk kepentingan politik belaka. Oleh karena itu, keberadaan NU sebagai organisasi sosial kegamaan harus tetap dijaga demi tetap eksisnya NU di tengah-tengah masyarakat.

Namun, berdasarkan cerita penulis di awal tulisan ini, masyarakat seolah-olah sudah mengklaim bahwa NU sudah tidak menjalankan fungsinya sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan. Benarkah klaim tersebut? Marilah kita bahas dalam sub topic berikutnya.

Teori Stimulus Respon: Meneropong Keberadaan NU di Masyarakat melalui fenomena Bahasa

Dalam teori ini dijelaskan bahwa, tuturan bahasa itu penting karena mengandung makna dan makna itu sendiri terdiri atas hal-hal yang penting di mana tuturan bahasa itu dihubungkan, yaitu peristiwa praktis.[1] Dari uraian di atas terlihat bahwa arti sebuah bahasa memiliki hubungan yang sebanding dengan peristiwa yang ada di sekitar bahasa itu digunakan.

Oleh karena itu, jika kita kembali pada cerita yang dipaparkan oleh penulis di awal tulisan, maka fenomena bahasa yang muncul adalah NU merupakan bagian dari politik, dan hal ini sudah terkonstruk dalam benak masyarakat.

Apa yang didapatkan oleh penulis dari fenomena bahasa tersebut memang sesuai dengan kondisi objektif (praktis) yang ada di lapangan. Dampak yang muncul dari konstruksi pemikiran tersebut, yaitu: (1) bagi masyarakat yang gandrung dengan politik, maka ini merupakan peluang politik sekaligus tantangan yang harus dihadapi oleh NU atau bahkan NU akan dijadikan batu loncatan untuk menuju dunia perpolitikan, (2) bagi warga yang kurang gandrung dengan politik, maka yang terjadi adalah warga NU akan meninggalkan dan menanggalkan atribut NUnya. Hal ini sesuai dengan apa yang diceritakan oleh penulis dalam pendahuluannya.

Jika konsekuensi yang ke dua yang terjadi, maka hal ini akan berpengaruh sekali terhadap eksistensi NU dalam masyarakat. Oleh karena itu, NU seharusnya tetap pada jalurnya, yaitu lebih konsen pada kegiatan sosial keagamaan dari pada perpolitikan agar nama besar, jati diri, dan eksistensi NU dalam masyarakat bisa terjaga dengan baik.

Penutup

NU yang sejak lahir merupakan komunitas yang ingin menegakkan syiar Islam dalam masyartakat dengan memperhatikan budaya setempat seharusnya tetap berada pada jalurnuanya. Hal ini dikarenakan jalur yang dirintis NU sejak dahulu kala oleh ulama-ulama salaf merupakan identitas NU. Jadi, jika NU berpindah jalur (menuju jalur politik), maka bisa dipastikan NU akan kehilangan identitasnya secara perlahan. Wassalam…



 Kader IPNU UIN Malang yang sedang mempelajari linguistic di Fakultas Humaniora dan Budaya Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris

[1] Samsuri, 1988, Berbagai Aliran Linguistik Abad XX, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm 57